“Nah, sekarang Rabby ada temannya tuh,Put!”, aku menatap wanita muda itu mengelus anak perempuan mungil yang berdiri di hadapanku ini. Anak perempuan yang sangat manis, bahkan aku tak tahan ingin terus melihat ke dalam matanya yang bulat dan hitam, wajah bundarnya, pipinya yang seperti bakpao dan bersemu merah. Dan bibir mungilnya yang sedikit terbuka, “Wiii…Niiii…”, itu katanya. Ah, apakah dia memanggilku begitu?
“Iya, sayang, Winny ya? Nama yang bagus. Putri pintar ya!”, wanita itu kembali mengelus kepala anak perempuan mungil itu. Dia dipanggil Putri. “Wiiiniii…”, dia menunjukkan, “Yaaabiii…”, dan menunjuk ke sebelahku. Hum, ini ya teman baruku? Salam kenal Rabby. “Uuyiii…”, dia menepukkan tangannya ke arah dada, “Uundaaa…”, dan dia menunjuk ke arah wanita muda tadi. “Aduuuhh…Pintarnya anak Bunda!”, lagi lagi wanita itu mengelus kepala si mungil dan mencium pipinya, hey! Si Mungil! Nah, mulai sekarang aku akan memanggilmu Si Mungil nona kecilku.
“Sis? Siska…”, terdengar suara bass laki-laki dari balik punggung wanita itu, dia menoleh ke arah suara, “Iya, Mas…”, wanita itu tersenyum manis. Aku melihat seorang laki-laki tampan, sangat rapi, dia membetulkan dasinya dan kemudian letak kacamataya. “Ngapain kamu?”, tanya laki-laki itu, aku tidak suka dengan nada bicaranya, “Nanti kita telat lagi, cepat siap-siap!”, katanya ketus. Dan kemudian dia pergi dari hadapan kami.
Wanita itu berpaling kembali pada kami, “Nah, Putri, Bunda pergi dulu ya, semoga nanti pulangnya tidak terlalu malam ya sayang. Jadi nanti bisa main sama Putri.”, dia mengecup dahi dan kedua pipi Si Mungil. “Dah sayang… “, wanita itu berdiri dan menepuk kepalaku, berbalik dan meninggalkan kami. Kemudian muncul dari arah perginya wanita tadi, seorang wanita lain paruh baya, pakaiannya nampak kucel, tapi bersih.
“Hayoo… Neng Putri dapat apa dari Bunda sama Papa?”, dia membelai rambut si Mungil lembut. “Wii… Niii…”, dia menunjukku. “Duuhh… Bagusnya…”, katanya sambil mengangkatku dan langsung meletakkanku kembali. “Nah, sekarang neng Putri sarapan ya sama Bi Nah… Baru kita main. Neng Putri mau kan man sama Bi Nah?”, si Mungil itu mengangguk. Wanita itu mengangkatnya keluar pintu.
***
“Nggak! Nggak! Putri mau sama Winny sama Rabby!”, si Mungil memegangi tanganku erat dan telinga Rabby. Dia berteriak kesakitan. Aduuhh… Apa Putri tidak mendengarnya ya? Rabby sampai berteriak-teriak dan menangis.
“Sayang… Itu Rabbynya kasihan kalau kamu begitu…”, Bunda Siska, begitu Putri memanggilnya.
“Nggak mau! Nggak mau! Putri nggak mau! Biarin!”, duh Putri kenapa ya? Kok ngamuk-ngamuk begini? Nggak biasanya deh!
“Sayang, Putri nggak oleh begitu, kan udah gede! Nanti ditegur Bu Aida, lho!”, Bunda Siska masih terus membujuk Putri untuk melepaskan Winny, dan Rabby tentunya.
“Biarin! Kata Bu Kasih boleh! Pokoknya Putri mau sama mereka! Kalau nggak boleh, Putri nggak mau sekolah! Pokoknya nggak mau!”, dan seketika tangisnya pecah. Kepanikan terlihat jelas di wajah bunda Siska, dia melihat arlojinya. “Putri, Putri, dengar Bunda. Putri bukan nggak boleh main sama Rabby, nanti kalau sudah pulang sekolah kan bisa, ya, Sayang?”
“Nggak! Nggak! Nggggaaaaaakkkkk! Huhuhu… Huhuhu…”, kasihan Putri.
“Putri, nanti Papa marah lho kalau Putri tetap menangis.”, dan seketika itu muncul laki-laki itu dari pintu. “Ada apa ini? Kenapa lagi sih pagi-pagi? Nanti terlambat lagi!”, suaranya terdengar membentak, wajahnya nampak gusar dan terlihat sekali bahwa dia terganggu. Bi Nah yang berdiri di dekat pintu terlompat ke samping terkejut. Bunda Siska juga terkejut dan menoleh. “Ini Mas, Putri nggak mau melepas Rabby sama Winnynya. Kemarin ada telepon dari pihak sekolah, Putri nggak boleh bawa mereka lagi karena Putri jadi nggak mau main sama teman-teman yang lain.”, jelasnya.
“Putri!”, laki-laki itu memanggil si Mungil dengan keras, dan pandangannya lurus ke arah mata Putri. Seketika tangis Putri menjadi sesenggukan. “Letakkan itu!”, pintanya tegas. Putri menggeleng. Kemudian tangan laki-laki itu maju dan merebut Rabby dengan lembut, kemudian menyentakku pelan, memberikan kami pada Bi Nah. Tangis Putri seketika meledak lagi bersamaan dengan tubuh mungilnya dibopong keluar kamar oleh laki-laki itu.
Bi Nah cuma bisa menggeleng melihat kejadian itu. Bunda Siska hanya bisa menghela napas. “Tolong dibereskan ya, Bi!”, dan dia keluar menyusul Putri dan laki-laki tadi. “Iya, Bu.”, dan Bi Nah meletakkan RAbby dengan hati-hati ke dalam rumahnya, dan meletakkanku di atas tempat tidur. HUm, kenapa ya? Mengapa hari ini tidak bisa ikut Putri seperti biasanya? Aku bingung. Sepertinya kau juga bingung ya Rabby, tapi kamu pasti sedang kesakitan sekarang.
***
CKREK! KLEK!
Pintu kamar terbuka, Putri. Wajahnya lelah sekali.
BRUK! BRUK!
Dia melemparkan tasnya begitu saja ke meja belajar dan menjatuhkan diri ke tempat tidur. Di sebelahku. Matanya terpejam. Seragam putihnya berantakan, tidak rapi seperti ketika berangkat tadi pagi. Ah, lagi-lagi dia mengeluarkan air matanya. Kenapa lagi ya? Kemarin-kemarin juga begitu. Sejak kapan ya? Oya, sejak kamu cerita kalau gurumu suka menahan Putri untuk pulang dan suka pegang-pegang Putri. Itu kan yang beberapa waktu lalu dia katakan padaku dan Rabby, siapa ya namanya? Oya, kamu memanggilnya Darto Botak Sialan! Terdengar lucu, tapi aku tidak tahu apakah itu baik atau tidak. Tapi yang pasti kamu jadi lebih pemurung dari biasanya Putri. Dan aku sering kali basah karena air matamu.
Tiba-tiba matamu terbuka, menoleh ke arahku, menarik tanganku dan memelukku erat. Kemudian kamu mengambil tisu di meja belajarmu dan menghapus air mata yang tadi jatuh. Kamu mendudukkanku di pangkuanmu. Dan menatapku di cermin. Ah, Putri, tahukah kamu kalau kamu cantik? Sangat cantik, Putri! Seperti putri dalam dongeng yang pernah diceritakan Bunda Siska ketika kamu masih di TK. Tahukah kamu Putri? Entah mengapa, aku ingin sekali menjadi pangeran-pangeran di dalam dongeng yang diceritakan Bunda Siska. Dulu sekali, ketika aku memanggilmu si Mungil. Sekarang tidak lagi. Seragam hijau dan seragam merahmu telah kamu ganti dengan seragam biru. Kamu mungkin punya banyak calon pangeran lain yang lebih pantas.
Putri berdiri dan keluar dari kamar. Dibawanya aku serta. Pasti Putri mau mengajak ke tempat Rabby. Tuh, kan! Putri melangkah ke arah dapur, berarti mau ke tempat Rabby, asyik! Dari tadi cuma di kamar saja, bosan aku! Putri membuka lemari es dan mengambil beberapa lembar daun selada. Kemudian beranjak masuk ke sebuah ruangan yang temaram. Mereka menyebutnya garasi.
Putri menghampiri rumah Rabby dan meletakkanku di sisi samping rumah Rabby, “Rabby… Lagi apa? Makan yuk!”, dengan hati-hati Putri mengeluarkan Rabby. Lho? Kok Rabby diam saja? Biasanya dia langsung ribut-ribut dan marah-marah karena Putri lama membawakannya selada. Kenapa sih? Sepertinya ada yang aneh dengan Rabby. Put, Putri, Rabby aneh deh!
“Rabby…”, Putri mengacungkan selada yang dibawanya ke arah mulut Rabby. Aneh! Biasanya dia akan langsung membuka mulutnya. “Rabby…Kok nggak mau makan sih? Rabby…Rabby…”, Putri terus memanggil namanya. Wajahnya berubah, ada apa Putri?
“BIIIIII…..BIIIII NAAAAAHHHH….!!!”, Putri berdiri dan masuk ke dapur, meninggalkan aku sendirian. Putri, tunggu! Gelap Put, aku takut! Duh, Putri keterlaluan deh…
Eh, Rabby kenapa Put?, Kamu bilang apa Put? Rabby mati? Kok kamu menangis lagi sih Put? Kenapa? Tangismu sama seperti waktu Rabby dibawa ke tempat om-om yang pakai jas putih dulu itu lho Put, ketika tidak sengaja Bunda Siska menginjak buntut dan kaki Rabby. Sebenarnya ada sih Put? Rabby mati? Gawat ya Put?
Eh, Put, mati itu apa sih?
***
“Winny… Dengar… Dengar…".
Ya, Putri, aku mendengarmu.
"Aku mau cerita dengerin yah!". Ada apa sih? Ko terlihat gembira sekali?
"Tadi Arung bilang suka ke aku! Hebat kan… Arung si Ketua OSIS…. Trus tadi dia juga bilang, dia suka sama Putri sejak MOS dulu!". Wah…. Selamat ya Putri! "Terus ya Winny, lusa dia mau main ke rumah lho. Kebetulan, besok Bunda sama Papa mau ke Jerman, bisa bebas deh." Putri berdiri dan berganti pakaian seragamnya dengan tanktop pink dan celana piyama. "Ngantuk ah, mau tidur dulu.", aduh Putri, itu baju seragamnya masih berantakan.
Ah, Putri, putriku dan Rabby. Si mungil cantik nan jelita ini sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik. Tubuhnya yang dulu geempal kini padat berisi, mirip Bunda Siska. Ah, aku sedikit bersyukur dengan ketidakmiripanmu dengan Rudi, laki-laki yang selalu kamu panggil Papa itu. Dari dulu aku tidak suka dengannya karena aku tidak pernah melihatnya menyayangimu. Yah, tapi aku tetap harus berterimakasih dengannya. Tahukah kamu Putri? Dialah yang mempertemukan kita dulu, kamu Putri dan Rabby.
Ah iya, Rabby…. Aku merindukanmu sobat. Sudah bertahun-tahun ya sejak terakhir kali aku melihatmu. Apa kabar? Putri baik di sini juga aku.
Arung, tadi Putri cerita dia ya. Oh iya, aku ingat, dulu Putri pernah cerita ketika pertama kali mengenakan seragam putih abu dulu itu. Kamu bilang ada seorang kakak kelas yang menarik perhatianmu, orang itu kan, Arung Samudra, begitu ya namanya. Tapi Put, laki-laki yang seminggu lalu kau bawa kemari, yang kamu biarkan dia mencium mulutmu, siapa itu, Zaki, kemana dia, Put? Kamu belum mengenalkannya pada Bunda Siska. Begitu juga Enes, eh, bukan! Tapi Ernest. Hehehe…. Aku tidak bisa menyebutkannya dengan baik Put! Aku tidak suka sama mereka, karena mereka pasti mengatakan aku mata hitamku ini menakutkan. Sampai sekarang aku tidak mengerti kenapa kamu biarkan teman laki-lakimu berbuat begitu.
Aku tidak tahu mengapa atau apakah itu baik atau tidak untukmu. Aku cuma bisa memandang dalam diam. Tapi tidak semuanya begitu, Nina dan Susi tidak, malah mereka suka bermain denganku, memelukku, aku suka mereka Putri. Beritahu mereka ya, Put! Aku suka mereka.
***
Sayup-sayup terdengar suara orang yang berteriak minta tolong, begitu gaduh. Ya ampun apa itu yang menjilat-jilat, warnanya merah, seperti warna pita yang terpasang di leherku. Putri, Putri, duh, masih tidur.
"Api! Api! Api!"
"Tolong! Tolong! Tolong!"
Putri…bangun dong… Orang-orang berteriak-teriak tuh di luar, minta tolong. Ada apa ya Putri?
DOK!DOK!DOK! Eh!? Duh kaget! Siapa lagi itu yang menggedor pintu.
"PUTRI! BANGUN PUT! PUTRI!", itu suara Papa Rudi.
DOK!DOK!DOK! DOK!DOK!DOK!
"PUTRI! SAYANG! KEBAKARAN PUT!", sekarang suara Bunda Siska.
Put, bangun dong… Kayaknya kamu kesiangan deh! Terang sekali di luar Put!
BRAK! BRAK! BRAK!
Suara keras apa itu Put? Dari arah pintu, Put.
BRRAAAKK!!!
Wajah Papa Rudi lah yang pertama muncul dari balik pintu yang dibuka paksa itu. Duuh… Putri bakal ngamuk nih! Engsel pintunya sampai rusak begitu. Lho, Bunda Siska kenapa? Kok basah kuyup begitu? Siapa yang menyiram Bunda Siska?
"Putri, bangun, rumah kita kebakaran! Bangun sayang!", papa Rudi menepuk pipi Putri keras. Putri tersentak bangun "A-apaan sih!?", tuh kan, ngamuk deh!
"Cepat bangun! Rumah kita terbakar!", seketika wajah Putri pias.
“A-apa? A-apa maksudnya ini?”, dan Putri terjatuh lemas di lengan Papa Rudi.
“PUTRIII!!!”, Bunda Siska dan Papa Rudi berteriak bersamaan. Dan dengan tangkas dan cepat Papa Rudi membawa Putri keluar dari kamar.
Tunggu! Kenapa Putri dibawa pergi? Tunggu! Biarkan Putri di sini, Putri pasti suka disini. Ini indah sekali, sesuatu yang menjilat-jilat dan berwarna merah seperti pitaku. Ah, indahnya! Papa Rudi pasti tidak tahu kalau Putri menyukai pita-pita merah ini. Bunda Siska juga, padahal dulu Bunda Siska pernah membuat Putri menangis karena pipinya dipukul. Bunda Siska melihat Putri bermain dengan pita merah ini, dikamar.
Tunggu! Jahat sekali sih! Mengapa meninggalkanku? Putri…. Ah, percuma! Dia tidak mendengarku. Padahal aku ingin bermain dengannya di dalam pita merah ini. Indah sekali Putri. Lihat, mereka bermain di tanganku… Indah sekali Putri…
Jatinangor, 27 Februari 2007
Untuk bonekaku yang berdebu di rumah,
maaf aku menelantarkanmu.