COFFE FOR TWO (revisi)

COFFE FOR TWO

Pak, ini kopinya, nanti dingin.”, ibu memanggil bapak yang sedang membaca koran paginya yang belum sempat dibaca tadi pagi. Bapak menurunkan korannya sedikit, melirik ibu dari atas kacamatanya yang dipakai sedikit turun di batang hidungnya. “Taruh saja disitu, Bu.”, dan kemudian bapak kembali melanjutkan membaca korannya.

Bara belum pulang, Bu?”, tanya bapak tanpa menyingkirkan korannya. “Belum, sudah sore begini belum pulang juga, kemana ya, Pak?”, wajah ibu sedikit menampakkan kekhawatiran. “Ndak biasanya dia telat pulang sampai hampir mau magrib begini.” Keduanya duduk bersama dalam diam, menikmati sore di depan rumah berdua seperti biasa.

Senja memerah, pohon-pohon kelapa menjadi siluet hitam kemerahan dan sedikit oranye. Dusun itu sepi, sore-sore mau magrib begini orang-orang lebih memilih untuk diam dirumah, menantikan adzan magrib dari surau yang ada di tengah dusun, atau berkumpul bersama keluarga sekedar untuk duduk dan ngopi atau ngteh bareng.

Sesosok anak laki-laki berumur 12 tahun berbadan kecil, kulitnya gelap, kotor dan dekil, keringat meluncur di dahinya. Tampak berjalan mantap sambil menenteng sepatu dan tasnya di satu tangan, wajahnya lelah tetapi sebuah senyum tersungging di bibirnya. Ketika langkahnya sampai di pagar bambu setinggi pinggangnya, dia meraih pintu pagar sederhana itu.

“Assalamualaikum,”, bocah itu memberi salam.

Dari mana, Le? Kok baru pulang sore begini?”, Ibu menyambutnya dengan mengulurkan tangan, bocah itu menyambutnya dan mencium punggung tangannya. Kemudian nyengir, memperlihakan deretan giginya yang kekuningan. “Main bola, Bu”, kemudian dia berdiri di hadapan Bapak yang sudah menurunkan korannya, dia mengambil tangan laki-laki yang hampir paruh baya itu dan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan kepada ibunya. “Tadi diajak sama Tono sama yang lainnya juga. Menang, skornya 3 lawan 1, maen sama anak-anak kampung sebelah. Aku ngegol-in 2 bola lho, Bu!” Ibunya hanya tersenyum.

Bocah itu tidak langsung masuk ke dalam rumah, matanya tertumbuk pada secangkir kopi yang terhidang di meja dengan baunya yang menggelitik hidung. Tangannya maju meraih gelas, “Pak, minta ya!”, setelah menyeruput kopi Bapak kemudian pandangannya beralih ke ibunya, “Ndak buat gorengan ya, Bu?”

Oalah Le…Tanganmu kotor, kebiasaan kamu, Le! Itu kan kopi Bapak belum diminum.”, Ibu dengan pelan mengomelinya, “Sebentar Pak, ibu buatin yang baru.”, baru saja ibu mau beranjak ke dalam, dan Bapak mencegahnya, “Ndak usah Bu, biar berdua saja sama Bara.”, Bapak menurunkan korannya sebentar.

Ibu duduk kembali, “Ya sudah!”

Pak,”, Bara memanggil Bapaknya yang sudah terpekur dengan korannya lagi. Bapak hanya menyambutnya dengan gumaman. “Besok, yang mau ikut seleksi lomba matematika disuruh bawa duit sepuluh ribu.” Bapak hanya menjawabnya dengan gumaman, tanpa menyingkirkan korannya. “Bara pengen menang lagi Pak. Kalo dapet duit, mau beliin Ayu jepit permata sama mau beli tas baru buat Bara sendiri. Tas Bara sudah jebol.”

Azan magrib sayup-sayup terdengar dari arah surau di tengah dusun. Bapak melipat korannya, dan berdiri, “Cepet mandi, sek ke langgar, jamaah disana saja.”, katanya pada Bara. Bapak meraih cangkirnya yang tinggal berisi setengah dan menenggaknya sampai habis. Bara berdiri memungut tas dan sepatunya. “Bu, ndak buat gorengan ya?”

* * *

Mas Bara!”, Ayu mengejarnya keliling rumah, “Balikin iket rambut aku!”, Bara menjulurkan lidahnya sembari menyibakkan tirai yang menjadi penutup pintu dan dengan segera melesat keluar kamar adiknya itu. Ayu mengejar dari belakang dengan tangan terkepal yang teracung ke atas. Rok merahnya terkembang ketika dia berlari. Kamar Ayu langsung menuju ke ruang yang bisa disebut ruang makan untuk keluarga mereka, padahal disitulah mereka sekeluarga menghabiskan waktu di malam hari untuk sekedar duduk dan menonton sinetron bersama.

Bara berputar dua kali mengelilingi meja makan segi empat itu, Ayu mengejar mengikutinya sambil berteriak-teriak kesal. Bara berlari ke ruang depan dan menemukan Bapak sedang memakai sepatu. Bara berhenti berlari dan Ayu menabrak punggungnya. “Lho Pak?”, wajahnya menunjukkan tanda tanya.

Ini baru jam enam, kok udah mau berangkat? Kan kantor Bapak buka jam setegah delapan.”. Ayu menyambar tangan Bara merebut ikat rambut berwarna pinknya. Bara mengambil tempat duduk dihadapan Bapak, menunggu penjelasan. Biasanya Bapak akan berangkat jam setengah tujuh bersamanya dan Ayu. Bapak mengangkat wajahya, wajah tua itu tampak segar karena udara pagi. “Sekarang apel paginya jam tujuh. Yang ndak hadir, bisa dipecat, Le.”, Bapak hanya karyawan kecil di sebuah instansi pemerintah. Bapak berdiri memperhatikan anak laki-lakinya yang berseragam putih abu-abu itu dan tersenyum. “Nanti berangkatnya bareng Ayu ya, jangan ditinggal.”

Bu, Bapak mau berangkat.”, dengan tergopoh-gopoh ibu keluar dari ruang dalam, masih memegang lap tangan, “Lho, sarapannya Pak?”, “Udah, tadi minum kopi.” Bapak mengulurkan tangannya, Ibu meraihnya dan mencium tangannya, dan Bara mengikutinya, “Yu! Bapak mau berangkat nih!”, Bara memanggil Ayu, gadis manis berambut panjang yang dikuncir ekor kuda itu keluar dari kamarnya dan menghampiri Bapaknya, mencium punggug tangannya. “Hati-hati ya, Pak!” pesan ibu.

Bara mendorong Ayu untuk masuk kedalam untuk sarapan. “Bar, itu kopi Bapak masih sisa, tolong dihabiskan ya!”, Bara menoleh dan melihat Bapak tersenyum. Bara pun tersenyum. “Oya, Bar, lomba ilmiahmu kapan to pengumumanya?”, tanya Bapak lagi. “Dua hari lagi Pak, doakan saja saya menang ya, Pak.” Supaya bisa membelikan selendang batik buat ibu, dan kacamata baru buat Bapak. Lanjut Bara dalam hati.

Di ruang dalam, Ayu menyuap sarapannya ke dalam mulut. “Nanti, kalau Mas Bara menang lomba lagi, belikan Ayu tas baru ya! Sama iket rambut juga, yang bagus ya, Mas!”, katanya dengan mulut yang penuh. “Enak aja, ikut lomba sendiri dong! Minta terus….”, Ayu memonyongkan bibirya “Huh, Pelit!”, “Biarin!”, diam-diam Bara tersenyum, Pasti Yu ….

Bara meraih gelas kopi Bapak, kok masih setengah? Bara tidak bisa menanyakan darimana Bapak bisa mendapatkan tenaga untuk bekerja sampai sore karena Bapak sudah berangkat bekerja. Bara mendekatkan bibir gelas ke mulutnya, menyeruput kopi sisa Bapak.

* * *

Apa Bara ndak usah kuliah saja Bu?”, Bara, anak laki-laki itu duduk dilantai, menyenderkan punggungnya pada kaki ibunya dengan manja. Pandagannya lurus ke depan, menonton televisi 14 inch yang sudah ada sejak dia belum lahir. “Biar nanti Ayu saja yang kuliah, Bara akan cari kerja supaya bisa bantu Bapak. Nanti Bara akan minta tolong teman untuk membantu mencarikan pekerjaan, katanya ada Bu.”, lanjutnya sambil menoleh ke arah ibunya yang duduk dikursi. Ibu meliriknya, tangannya berhenti sebentar dari kegiatan menyulamnya. Ibu tersenyum.

Yakin kamu, Le?”, Ibu tersenyum dan melanjutkan sulamannya. Sulaman mawar pada sehelai kain berwarna merah jambu, kata ibu untuk gorden dikamar Ayu, biar cantik katanya.

Habis mau gimana lagi Bu?”, Bara menghela napas. Memang dia mendapatkan beasiswa dari beberapa perguruan tinggi, tetapi itu hanya biaya masuknya saja, tidak yang lain-lain. Sedangkan perguruan tinggi itu semua ada diluar kota, jauh dari kampung Bara. Kalau Bara mengambilnya, masih harus ngontrak atau ngekos, belum biaya hidup sehari-hari. Belum menjalaninya saja Bara sudah pusing. Iya, karena Bara tidak mau lagi merepotkan Bapak yang sudah semakin tua, sebentar lagi pensiun. “Bara sih mau Bu kuliah, tapi Bapak…” Bara tidak melanjutkan kalimatnya. Bara ingin membiayai kuliahnya, sambil bekerja sambil kuliah. Tapi, Bapak tidak mengizinkannya bekerja sambil kuliah. “Kalau mau kuliah ya kuliah!”, begitu kata Bapak waktu itu.

Ayu keluar dari kamarnya, ditangannya menggenggam sebuah buku yang dilipat, “Mas…”. “Hmm..” Bara menyahut tanpa memalingkan pandangannya dari televisi. “Ajarin pe-er IPA-ku dong… Ayu ndak ngerti Mas…Susah…”, katanya memelas sambil mendekati Bara dan duduk disebelahnya. “Udah baca bukunya belom Yu?”, kata Ibu, Ayu menggeleng. “Malas. Tebal. Ayu ndak ngerti. Kalo diajarin Mas Bara baru nyambung Ayu, Bu!”.

Halah…Itu sih kamunya yang males baca buku,”, sambung Bara, “Ayu sih, emang gitu Bu, susah…”, lanjut Bara lagi. Muka Ayu berubah, bibirnya maju sedikit, “Ayu kan ndak sebego itu Mas…”, kemudian dia merapikan buku-buku yang sudah mulai dibukanya tadi. “Bilang aja Mas Bara ndak mau ngajarin Ayu!”, Ayu sudah akan berdiri ketika Bara menarik bukunya.

“Mana, mana, sini tak ajarin biar kamu pinteeeeerrrrrrrrrr…..”, kata Bara. Ayu tersenyum. “Gitu dooooonnngggg….!!”, Ayu duduk disebelah Bara dengan menopangkan dagunya pada tangan siap mendengarkan penjelasan Bara.

Assalamu’alaikum,”, suara Bapak terdengar dari depan rumah. “Bapak pulang tuh! Bukain pintu sana!”, Bara menyenggol lengan Ayu yang digunakan untuk menyangga dagunya, dan seketika Ayu tersentak. Ayu bersungut-sungut sambil berdiri dan berjalan ke arah depan. Ibu bangkit ke belakang, membuatkan kopi untuk Bapak.

Bapak muncul di ruang tengah yang fungsinya sekaligus sebagai ruang keluarga dan ruang makan. “Lagi apa Le?”, Bapak menarik salah satu kursi di meja makan, Bara meraih tangan Bapak dan menciumnya. “Ini, ngajari Ayu IPA.”, katanya. Ibu muncul dari dapur, di tangannya ada sebuah nampan dan dua gelas kopi, untuk Bapak dan Bara, dan dua gelas teh untuk Ayu dan dirinya sendiri. “Makasih Bu.” kata Bapak.

Bar, kamu… Kamu mau kuliah apa ndak?”, Bapak bertanya padanya. Bara meletakkan pensil yang dipegangnya dan memutar duduknya. “Pak, kalau Bara maunya kuliah, tapi Bara juga mau kerja, tapi Bapak bilang ndak boleh. Jadi, Bara kerja sajalah Pak!”. Ayu memperhatikan kedua laki-laki di hadapannya. Topik Mas Bara kuliah sudah sejak lama didebatkan, sudah sejak Mas Bara naik kelas dua. Tapi Mas Bara tidak mau merepotkan Bapak, Mas Bara mau membiayai kuliahnya sendiri.

Dan sekarang, hanya tinggal dua bulan kurang dari ujian nasional. Kelulusan Mas Bara sebentar lagi, tapi belum ada keputusan pasti. Sebelumnya Ayu sudah sangat tahu kalau Bapak ingin Mas Bara kuliah, tetapi hanya kuliah, tidak sambil bekerja. Ayu memperhatikan Bapak yang termenung, sebelah tangannya diletakkan di meja dan sebelahnya bergantung lelah di sebelah kakinya. Bapak sedang berpikir. Bara sudah kembali pada posisi semula dan melanjutkan mengajari Ayu.

Tapi kamu mau kuliah, Le?”, Bapak bertanya. Bara tidak menjawab. Iya. Mas Bara pasti pengen banget kuliah, temen-temennya saja pada kuliah kok! Ayu berkata dalam hati. Bapak juga tahu, diamnya Bara pertanda iya. “Kok kamu diem saja Le?”, tanya Ibu. “Mbok ya dijawab kalau kamu pengen kuliah.” Duh, Ibu ini… Bara tersenyum pada Ibunya itu. “Kopinya Le, nanti dingin. Bapak juga, diminum.”, Ibu mengulurkan gelas pada Bapak. Bapak menyambutnya dan menyeruput sedikit. Ayu mengambil gelas tehnya. Bara masih ditempatnya, berkutat dengan buku Ayu.

Bar, kamu bisa selesai kuliah tepat waktu?”, tanya Bapak. Bara tidak menjawab. “Kalau kamu bisa selesai tepat waktu, Bapak sih ngikut sama kamu saja. Terserah kamu mau gimana.”, lanjut Bapak dengan lembut. “Bapak pengen liat kamu jadi sarjana yang bener, yang pinter, yang sukses, bisa Bar?”, lanjutnya lagi. Bara membalik badannya, berlutut menghadapi meja, dan mengambil gelas kopi. Gelas kopi Bapak. Bara janji, Pak…

***

Bara dan Bapak duduk dihadapan Ayu dan teman laki-lakinya yang dibawanya ke rumah. Bara memperhatikan bergantian, adiknya Ayu dan laki-laki yang duduk di sebelahnya. Kamu masih muda, Yu. Pikirnya lirih. “Kamu mau kasih makan apa adikku ini?”, Bara bertanya dengan tajam. “Dia baru 17 tahun, masih kelas dua SMA, sebentar lagi kenaikan kelas tiga dan ujian. Belum lagi masih harus melanjutkan kuliah.” Bara menoleh kearah Bapak meminta dukungan.

Bapak sedang memperhatikan Ayu dengan seksama, memperhatikan anak gadisnya yang sekarang berkerudung itu. Wajah Ayu yang manis tertunduk mendengarkan kata-kata Bara. Ibu keluar membawakan secangkir teh untuk tamunya, dan segelas kopi untuk Bapak. Kemudian berjalan memutar dan duduk di samping Ayu dan menggengam tangannya.

“Saya tahu Mas. Tetapi apa salahnya Mas? Mas tentunya sudah tahu saya sudah bekerja walaupun masih kuliah. Dan saya sanggup untuk memenuhi kebutuhan Ayu, Mas.”, laki-laki berusaha menyakinkan Bara. “Iya, pake’ uang bapak ibumu? Gitu maksudnya?”.

Mas!”, Ayu angkat bicara, “Mas Surya kan sudah menjelaskan. Walau keluarganya berkecukupan, tetapi dia sudah mandiri dan bekerja. Ayu kira Mas akan mengerti maksud Mas Surya, Mas Surya kan teman kuliah Mas Bara juga.” Bara melotot ke arah adiknya, ingin sekali dia memarahi adiknya satu-satunya itu. Dia sangat mengerti keadaan Surya, pintar, berkecukupan, mandiri, sudah bekerja, dan cakap. Tetapi, Ayu masih terlalu kecil untuk menikah sekarang, Bara menginginkan Ayu kuliah dan meraih gelar sarjana.”Kamu, berani sama Mas?” katanya dengan emosi tertahan.

“Bukan begitu Mas. Maksud Ayu, toh Mas kan sudah tahu Mas Surya seperti apa, dulu juga Mas Bara yang mengijinkan Mas Surya untuk mendekati aku.”, kata Ayu berapi-api. “Lagian, selama ini kan Mas Surya membantu Mas Bara mencarikan pekerjaan Mas yang sekarang, kami juga menikah untuk menghindari zi…”

“Cukup!”,

Bara membentaknya. Bara tidak mengira adik kecilnya sudah berani membantahnya. Baru saja dia kan mengeluarkan kata-kata lagi ketika Bapak memegang lengannya. Bara menoleh, dan mendapati pandangan mata Bapak yang menusuk kepadanya. Ayu tertunduk lagi, meredam emosinya yang meluap-luap kepada mas-nya satu-satunya itu. Perbedaan usia yang terpaut tujuh tahun membuat Bara terlalu melindungi Ayu.

Surya menatap Ayu. Kemudian menatap Bapak dan berkata, “Pak, saya mohon Bapak mengerti keinginan kami dan niat baik kami. Bapak sekeluarga juga sudah mengenal keluarga saya dengan baik. Orang tua saya juga mendukung dan suka sama Ayu. Saya mohon Bapak bisa mengijinkan saya untuk melamar dan menikahi Ayu.”, katanya mantap.

Ibu menatap bergantian ke arah anak perempuannya, anak laki-laki tertuanya kemudian suaminya. Dia menatapnya lama. Air muka suaminya tenang, Ibu yakin di dalam hatinya Bapak punya keputusan yang bijak untuk masalah ini. Bapak yang sedari tadi hanya diam mendengarkan perdebatan kedua putra-putrinya angkat bicara. “Bapak tidak akan melarang siapapun untuk melakukan apa yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri selama itu tidak merugikan orang disekitarnya.”

Bapak sangat mengerti kemauan dan alasan-alasan Bara yang tidak menginginkan Ayu untuk menikah sekarang. Bapak tahu, Bara menginginkan Ayu untuk menjadi sarjana dulu sebelum menikah supaya tidak tertinggal dengan kemajuan zaman.” Bapak tersenyum

Sedangkan Bapak berpikir bahwa alasan Ayu pun tidak ada yang salah. Nak Surya, Bapak tidak keberatan kalau kamu mau menikahi Ayu.”, Ayu mengangkat kepala medengarnya, memandang Surya sekilas kemudian memandang Bapak. Sedangkan Bara, dia menoleh dengan pandangan penuh tanya ke arah Bapak.Tidak mengerti.

Bapak meraih gelas kopinya, “Tetapi,”, meminum sedikit kopinya, panas, Bapak meniup perlahan dan meminumnya lagi sedikit. “Bapak perlu bicara dulu dengan Ayahmu dan Ibumu.” Ayu dan Surya lega mendengar kata-kata Bapak barusan.

Tapi, Pak…”, Bara akan mengeluarkan argumennya lagi, tetapi Bapak sudah menyodorkan gelas kopinya kepada Bara. “Kamu mau, Bar?”, Bara kehilangan kata-katanya ketika melihat wajah Bapak yang tenang dan matanya yang bijaksana. “Kalau kamu mau, cepetan cari istri untuk dirimu sendiri. Biar tidak kalah sama Ayu.” Kata Bapak sambil tersenyum. Ayu nyengir “Iya Mas, Inget umur…”. Bara mendelik ke arah Ayu, tangannya meraih gelas yang disodorkan Bapak, dan meminum sedikit isinya.

* * *

MABUK, SUPIR TRUK MENABRAK MOBIL PENGANTIN

Kemarin terjadi sebuah kecelakaan antara truk pengangkut sayuran dengan sebuah sedan. Adalah korban beserta istri, Bara Putra Pratama, kepala redaktur sebuah koran terkemuka di daerahnya baru saja melangsungkan pernikahan. Diduga supir truk menyetir dalam keadaan mabuk dan setengah sadar. Korban yang menyetir sendiri mobil pengantinnya tidak dapat mengelak ketika truk berkecepatan tinggi dari arah yang berlawanan itu keluar dari jalurnya. Korban beserta istri meninggal di tempat. Kepolisian daerah…..

Senja merah indah menghiasi sore itu seperti biasa. Biasanya Bapak akan menikmatinya sambil membaca koran dan menyeruput gelas kopinya. Tapi kali ini tidak, Bapak terpekur sendirian di beranda rumah, menatap jauh ke arah senja yang merah itu.

Pak, “, Bapak tersentak dari lamunannya, Ayu tersenyum kepada Bapak. Tangannya sibuk meletakkan gelas kopi Bapak di meja beranda. “Yu,”, Bapak membenarkan posisi duduknya yang agak merosot. “Ibumu mana, Yu?”. Ayu duduk di kursi yang satu lagi, “Sedang memandikan Bayu dibelakang.”, Bapak tampak mengangguk-angguk.

Suamimu apa kabar, Yu? Apa dia ndak keberatan kamu sering kemari?”, Ayu menggeleng, “Kata Mas Surya biar Bayu nemenin Ibu yang masih suka keinget Mas Bara Pak. Kasian ibu menangis terus.”

Sudah sebulan, Pak,” kata Ayu, “sejak Mas Bara ndak ada, rumah kerasa kosong sekali ya, Pak.” Bapak diam. “Dulu, waktu kita masih kecil, Mas Bara selalu buat aku nangis ya, Pak. Mas Bara selalu jahil sama aku. Tapi dia baik, suka sekali membelikan aku jepit dengan uang jajannya, atau memukuli anak-anak lain yang mengganggu Ayu ya, Pak. Mas Bara pintar sekali Pak, Ayu terus saja iri karena tidak bisa sepintar Mas Bara. Dulu Ayu pernah nyumputin piala Mas Bara, tapi dia ndak marah sama Ayu.

Mas Bara selalu menjaga Ayu, juga Ibu. Mas Bara suka nemenin Ibu belaja ke pasar, atau sekedar nganter ibu ke warung di kampung sebelah. Mas Bara juga ndak pernah lupa membelikan kain batik kesukaan Ibu kalo dia tugas keluar kota. Dulu waktu Ayu menikah, Mas Bara cemberut terus-terusan selama tiga hari. Dan tiga tahun lalu, ketika Bayu lahir, dia gembira sekali seakan-akan yang lahir anaknya. Mas Bara selalu berusaha membuat Ayu dan Ibu senang. Itu sebabnya Bapak ndak pernah marah sama Mas Bara.”, kemudian Ayu terdiam, sebulir air mata jatuh ke pipinya. Dengan cepat dia menghapusnya kemudian berdiri dan masuk kedalam rumah, “Ayu masuk dulu, Pak.”

Senja makin merah menghias indah sore itu seperti biasa. Biasanya Bapak akan menikmatinya sambil membaca koran dan menyeruput gelas kopinya. Tapi kali ini tidak, Bapak terpekur sendirian di beranda rumah, menatap jauh ke arah senja yang semakin merah itu. Matanya basah, Bapak melepas kacamatanya dan memijit-mijit batang hidungnya.

Darimana Le?”, laki-laki itu menurunkan korannya.

Main Bola, Pak!”, anak laki-laki itu duduk di teras rumahnya bersama seorang laki-laki paruh baya.“Oya, Pak, kemarin lomba di kabupaten menang, dapet piala sama duit, trus mau lomba lagi di kotamadya minggu depan. Doakan menang ya, Pak!”, keringatnya membanjiri seluruh tubuhnya. Dia melap wajahnyanya dengan lengannya yang juga banjir keringat. Hidungnya mengerut tiba-tiba. Kemudian matanya tertuju pada segelas kopi di meja. Tangan kotornya meraih gelas itu, “Minta ya Pak!”, dan dia meminumnya sampai habis.

Ih, Mas bau!”, adiknya yang keluar untuk menyambut kakaknya itu spontan menutup hidung. Dia berdiri, “Hayo sini, Mas kasih keringet!”, dan dia mengejar adiknya itu ke alam. Laki-laki itu tersenyum, memandang ke arah senja yang memerah dan melanjutkan membaca korannya.

Jatinangor, 21 Desember 2006

(Revisi) Bandar Lampung, 28 Januari 2007

nb : masukannya ya…^^;

One Response to “COFFE FOR TWO (revisi)”

  1. d'ORDINARYme Says:

    ada yang baca gak sih ini???

Leave a Reply